Kulanjutkan perjalanan pulang, menelan angin malam yang dingin tetapi
tidak segar, kabut yang seperti selimut sudah menebal membatasi
pandanganku. Ini terjadi hampir setiap malam berkumpul dan bersosial
dengan manusia yang bernama sahabat/teman. Dan jika beruntung, sesekali
langit cerah penuh cahaya berkedip dan bulan sebagai ibunya. Arak awan
juga tak mau kalah berselancar di atas garis lengkung bumi. Hal sepele
yang lain juga dapat dinikmati, seperti kilat yang menari-nari di kebun
langit tak hentinya berusaha mengalihkan pandanganku. Atau kumpulan awan
yang sedang migrasi, sejenak mereka menetap sementara si bulan
mengintipku dari tirai-tirai yang transparan. Indah bukan? Kata-kata ini
pun tak cukup untuk mengungkapkan suasana yang diciptakan oleh Tuhan
dalam perjalanan yang singkat, ,tidak kita sadari dan tetap terjadi di
setiap waktu, padahal jaraknya tak terlalu jauh dari salah satu cafe
atau rumah teman sampai dirumahku, beberapa kilometer dengan kecepatan
40-60 km/jam.
Memang sebelum melangkah pulang aku mengkancingkan jaket
abu-abu tuaku buatan Jeong Woo Lee,namun tak cukup juga untuk melepaskan
rasa dingin yang menusuk pori-pori, meregangkan tangan yang terkadang
terlalu kaku untuk memacu pedal gas motor merahku. Tower Telkomsel yang
tinggi begitu bagus jika dilihat dari bawah, tentunya dicampur dengan
komposisi warna malam hari,lalu hal itu tiba-tiba mengingatkanku jika
aku tidak memakai provider itu lagi. Melalui bangunan-bangunan yang
mayoritas chinese yang tentunya warna warni penerangnya lumayan membuat
menyegarkan mataku yang mulai mengantuk. Jalanan memang sepi, sepertinya
bebas mengendarai kendaraan dengan gaya seperti apapun tak ada yang
melihat. Lalu aku senyum-senyum sendiri seketika kuingat pernah duduk
bersila sambil mengendarai motor. Konyol sekali. Aku masih membayangkan
dimana tempat tinggi yang dapat kusinggah selain teras rumah sendiri
untuk memandangi bumi bagian atas, sekedar memanjakan mata dan
menenangkan hati. Tempat itu akan menjadi tempat favoritku. Sudah cukup
melamunnya, kucuci wajahku yang berminyak setelah bepergian di malam
hari. Kata-kata ini hanya suatu bentuk syukurku dalam menikmati karya
Tuhan yang pada umumnya tak dihiraukan. It's simple grateful the great God
made at a short time, hope you'll like it. Bye : )



