Senin, 29 Oktober 2012

Grateful the Great God Made at a Short Time.

       Kulanjutkan perjalanan pulang, menelan angin malam yang dingin tetapi tidak segar, kabut yang seperti selimut sudah menebal membatasi pandanganku. Ini terjadi hampir setiap malam berkumpul dan bersosial dengan manusia yang bernama sahabat/teman. Dan jika beruntung, sesekali langit cerah penuh cahaya berkedip dan bulan sebagai ibunya. Arak awan juga tak mau kalah berselancar di atas garis lengkung bumi. Hal sepele yang lain juga dapat dinikmati, seperti kilat yang menari-nari di kebun langit tak hentinya berusaha mengalihkan pandanganku. Atau kumpulan awan yang sedang migrasi, sejenak mereka menetap sementara si bulan mengintipku dari tirai-tirai yang transparan. Indah bukan? Kata-kata ini pun tak cukup untuk mengungkapkan suasana yang diciptakan oleh Tuhan dalam perjalanan yang singkat, ,tidak kita sadari dan tetap terjadi di setiap waktu, padahal jaraknya tak terlalu jauh dari salah satu cafe atau rumah teman sampai dirumahku, beberapa kilometer dengan kecepatan 40-60 km/jam. 
       Memang sebelum melangkah pulang aku mengkancingkan jaket abu-abu tuaku buatan Jeong Woo Lee,namun tak cukup juga untuk melepaskan rasa dingin yang menusuk pori-pori, meregangkan tangan yang terkadang terlalu kaku untuk memacu pedal gas motor merahku. Tower Telkomsel yang tinggi begitu bagus jika dilihat dari bawah, tentunya dicampur dengan komposisi warna malam hari,lalu hal itu tiba-tiba mengingatkanku jika aku tidak memakai provider itu lagi. Melalui bangunan-bangunan yang mayoritas chinese yang tentunya warna warni penerangnya lumayan membuat menyegarkan mataku yang mulai mengantuk. Jalanan memang sepi, sepertinya bebas mengendarai kendaraan dengan gaya seperti apapun tak ada yang melihat. Lalu aku senyum-senyum sendiri seketika kuingat pernah duduk bersila sambil mengendarai motor. Konyol sekali. Aku masih membayangkan dimana tempat tinggi yang dapat kusinggah selain teras rumah sendiri untuk memandangi bumi bagian atas, sekedar memanjakan mata dan menenangkan hati. Tempat itu akan menjadi tempat favoritku. Sudah cukup melamunnya, kucuci wajahku yang berminyak setelah bepergian di malam hari. Kata-kata ini hanya suatu bentuk syukurku dalam menikmati karya Tuhan yang pada umumnya tak dihiraukan. It's simple grateful the great God made at a short time, hope you'll like it. Bye : )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar